Tentang Pendiri

Kisah hidup aku mungkin pernah didengar dan dibaca oleh beberapa orang melalui media cetak, elektronik, media online, buku dan blog pribadiku. Melalui buku pertamaku yang berjudul  “Ketika Tuhan Mengizinkan Aku Sakit” dan buku kedua yang berjudul “Ketika Tuhan Masih Memberi Aku Hidup” merupakan kesaksian hidupku dimana aku mengalami pasang surut dalam kehidupanku, terutama ketika aku harus bergelut dengan penyakit dan maut yang dapat merenggut hidupku.

Ya! Tuhan masih memberi aku kesempatan menghirup nafas kehidupan hingga saat ini! Aku bersyukur akan kasih setia dan perlindungan-Nya.  Dan dibalik semua itu, sungguh akupun sadar bahwa Tuhan memiliki rencana yang indah dalam hidupku. Dia merenda perjalanan hidup ku kini, untuk dapat bersaksi tentang besar dan kasih setia-Nya bagi semua orang dan memotivasi mereka yang terpuruk untuk dapat bangkit kembali dalam menjalani hidup mereka dalam lindungan dan tuntunan kasih setia Tuhan. Paling tidak hal ini yang dapat aku pahami dan lakukan saat ini.

Sebagai insan pasca stroke, secara fisik aku mengalami kesulitan untuk beraktivitas seperti manusia normal, dengan separuh tubuh yang hampir dikatakan “lumpuh”, aku hanya dapat bersaksi melalui tulisan-tulisanku, bersaksi dalam beberapa kesempatan lain, baik seminar maupun kebaktian rohani.  Kemudian akupun diberikan kesempatan untuk berbicara dan memotivasi banyak orang melalui salah satu stasiun radio swasta Kristen di Jakarta, di setiap akhir pekan.

Memang hanya itu yang dapat aku lakukan saat ini disela-sela kesibukanku sebagai karyawan salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Aku sadar bahwa waktu yang kuberikan pada Tuhan dalam pelayanan tidak dapat dibandingkan dengan kasih setia, keselematan, dan pemeliharaanNya yang sudah dibuktikaNya berkali-kali dalam perjalanan hidupku. Namun apa mau dikata, aku harus mencari nafkah bagi kedua anak-anakku dan untuk melanjutkan hidupku, bahkan untuk melaksanakan pelayanan kepada Tuhan aku harus melakukannya seorang diri, walaupun kadang dibantu oleh beberapa teman dan sahabat, sebagian besar aku harus menjalaninya tanpa seorangpun, semua aku jalani dalam keterbatasanku. Hal ini aku rasa sangat manusiawi, sehingga aku tiba pada titik kepasrahan bahwa mungkin hanya ini yang dapat aku persembahkan kepada Tuhan.

Tapi apakah hanya itu yang dapat aku lakukan? Aku kadang berpikir bila Tuhan berkehendak, aku dapat berbuat lebih banyak lagi dalam pelayanan dan bersaksi tentang kebesaranNya, aku akan lakukan dengan sepenuh hati. Namun lagi-lagi aku menemukan jalan buntu, aku kembali bertahan dengan alokasi waktu yang sudah ku sisihkan untuk pelayanan, baik menulis maupun melalui siaran radio, minimal sekali dalam seminggu.

Sahabatku selalu mendorongku, untuk membagi waktuku secara proporsional, antara rutinitas hidup, hobi dan pelayananku. Baginya, aku masih sedikit menyisihkan waktuku untuk Tuhan, sebagai imbalan dari Kasih setia dan berkat yang sudah diberikan Tuhan kepadaku? Tapi apakah Tuhan menuntut hal seperti itu? Aku merasa tidak! Karena Tuhan memahami kondisiku saat ini.  Lagi-lagi aku merasa bahwa sahabatku tidak memahami keterbatasanku, selain harus bekerja sebagai orang tua tunggal bagi kedua anak kekasiku, mungkin ia tidak menyadari bahwa aku selalu sendiri tanpa bantuan siapapun, aku “cacat” dan tak mampu melakukan apa yang ia inginkan.

Seiring dengan perjalanan waktu, sahabat ku tersebut, masih terus memberikan dorongan dan memotivasi aku bahwa aku bisa melakukannya jika aku mau membuka diri dan mengajak keluarga, teman, sahabat dan mungkin orang lain yang terpanggil untuk bersama-sama melayani Tuhan. Apakah itu mungkin? Karena bagiku setiap orang memiliki kesibukan masing-masing, dan panggilan pelayanan itu bukan sekedar ucapan dan kata-kata tapi merupakan panggilan yang sungguh-sungguh, dimana Tuhan ikut campur dan membuka hati mereka untuk ikut melayani dengan kesungguhan hati. Apakah semua itu mungkin Tuhan? Sunggupun  aku tak tahu, namun aku pasrah bila memang Tuhan menginginkan seperti itu, biarlah Tuhan yang menggenapiNya.

Inilah sedikit cerita yang melatar belakangi pendirian Yayasan Christie dan Sahabat Nusantara (CRIDASA), melalui yayasan ini aku ingin mengajak setiap orang, siapa saja, untuk ikut dalam melayani sesama dan menyebarluaskan kasih setia Tuhan kepada siap saja, tanpa harus tersekat, dibatasi dengan segala perbedaan.

Semoga apa yang diupayakan oleh ku sebagai pendiri Yayasan beserta segenap pengurus Yayasan dan Relawan,  dalam kuasa dan kemuliaNya semua boleh terjadi sesuai dengan kehendak Tuhan saja. Biarlah Tuhan merenda, memimpin dan menuntun semua rencana kami ke depan.

Semoga kehadiran yayasan kami ini berkenan di hadapan Tuhan dan diterima di masyarakat, Tuhan senantiasa melimpahkan kasih dan berkat-Nya bagi kita semua. Amin!

 

CHRISTIE DAMAYANTI
Founder

Tentang Saya : http://christiesuharto.com/about-me/ Email : Christie.suharto@yahoo.com
Web : http://christiesuharto.com

freethemes